Monday, May 15

Fait Accompli



Fait Accompli
(Heidira Hadayani, 2015)

Hujan turun rintik-rintik sore ini. Langit gelap dan awan sudah berkumpul dengan sebuah konspirasi untuk mengguyur kota lebih deras lagi. Dengan tas tersampir di pundak dan seikat bunga aster putih di salah satu tangan, aku berjalan cepat-cepat, pijakan sepatuku di atas jalanan berair menciptakan bunyi percikan yang teratur.  
Hujan selalu membawaku memoriku kembali ke hari itu, hari saat ia pergi. Berbulan-bulan sudah berlalu, namun bagiku, ia tidak pernah benar-benar pergi. Aku melihatnya dimana-mana. Tidak hanya dalam kenangan, tetapi juga dalam tidurku; dalam mimpi yang terdistorsi oleh pertanyaan-pertanyaan tak terjawab dan rasa bersalah yang entah darimana asalnya. 

Namanya Lena. Aku masih mengingat dengan jelas segala tentang dirinya, bahkan hal kecil sekalipun. Caranya berjalan. Makanan favoritnya. Seulas senyum puas di wajahnya ketika mendapatkan nilai ulangan lebih baik daripadaku. Bagaimana dia mengikat rambutnya. Tidak terlalu mengherankan, karena aku mengenalnya semenjak kami baru belajar berjalan, kemudian berteman dan tidak terpisahkan. Mungkin ini terdengar klise, tapi kami melengkapi satu sama lain. Dia adalah api semangat untuk ketenanganku. Dia adalah suara lantang untuk diamku. Dia adalah optimisme untuk realismeku. Aku mengenal baik seluk-beluk kepribadiannya, dan vice versa. Setidaknya, aku mengenalnya sampai saat itu tiba. 

Aku ingat, hari itu Lena datang ke sekolah. Langkahnya lesu dan wajahnya masam. Seperti biasa, aku mendatanginya untuk mengobrolkan apa yang bisa diobrolkan. Aku tidak menemukan antusiasme sahabatku yang biasanya. Dia duduk di depanku, namun dia tidak benar-benar ada di sana. Mengerti maksudku? Tatapannya padaku menunjukkan semacam kerapuhan disana, seolah ada sesuatu yang menyiksanya dari dalam, namun ia tidak mengatakan apa-apa.

Aku percaya bahwa manusia, layaknya kehidupan, selalu berubah dan berkembang dengan proses tanpa sadar. Namun Lena adalah suatu, tidak, seorang fenomena pertama yang benar-benar membuktikan padaku tentang perubahan itu. Karena sejak hari itu, Lena yang kulihat sehari-hari bukanlah orang yang sama.

Setiap kali aku mencoba membuka pembicaraan bersamanya, ia merespon dengan dingin. Setiap kali aku bertanya apa yang terjadi, ia mengalihkan. Semakin kudesak, semakin jauh pula ia berlari. Hari demi hari ia semakin menutup diri. Dariku, dan dari kehidupan. Hingga kemudian hampir hilang sepenuhnya.

Dan sejak hari itu, aku tidak pernah berhenti bertanya mengapa.

*
Tidak hanya Lena, aku dan orang-orang yang mengenalnya juga berubah. Anggap saja ini adalah efek domino. Karena ia berubah, aku pun berubah, menyesuaikan diri dengan hidupku yang baru, sebuah kehidupan dimana Lena bukanlah sahabatku. Sebuah kehidupan dimana Lena tidak lebih dari orang asing yang kebetulan berada satu ruangan denganku.
Bukan hal yang mudah, karena sebelum keanehan ini tercipta, dia ada dalam hampir seluruh aspek hidupku. Bersekolah, bermain, mengerjakan tugas, berenang, sebut saja, maka kau akan melihat kami melakukannya bersama. Beralih menuju melakukan semua itu sendirian terasa aneh. Seakan aku ada di semesta lain dan bukannya menjalani kehidupanku yang biasanya.

*
Tapi, hal maha aneh dari seluruh rangkaian keanehan ini adalah saat dia benar-benar pergi. Pergi, dalam artian yang paling dasar. Pergi. Hilang dari dunia ini. Terhapuskan eksistensinya. Mati.
Pagi itu, hari Minggu sebelas bulan yang lalu, telepon genggamku berdering dan sekaligus menghancurkan rencana tidur-sampai-siangku. Sebelum aku sempat mengucapkan halo, orang di ujung sambungan terlebih dahulu berucap, sesenggukan.

“Lena, Ra, Lena.. Sudah nggak ada.”

Detik itu, aku yakin, jantungku berhenti berdetak. Seharusnya aku bertanya dengan panik, ‘apa maksudnya sudah nggak ada? Kamu bercanda kan? ‘ Tapi itu tidak perlu. Nada suara si penelpon, yang tidak sempat kutanyakan identitasnya, sudah mengungkap dengan jelas apa maksud kalimat itu. 

Aku menarik nafas, bergetar.

“Bagaimana... Bagaimana dia..?” Meninggal. Itu kata yang tidak sanggup kuucapkan.

“Maaf, Ra. Dia bunuh diri.”

Aku tidak merespon untuk sekian lama. Telepon genggamku sudah tidak ada dalam genggaman, mungkin tergelincir jatuh. Aku tidak peduli. Aku tidak peduli dengan penelpon di ujung sambungan. Aku terduduk di kasur, menghadap jendela yang berembun, menampilkan buram rintik hujan Desember pagi di luar sana.

Perasaan itu bukanlah kesedihan. Yang pertama kali terasa adalah keasingan. Aku masih terdiam, menatap jendela, sementara benakku berusaha menyerap informasi ini. Melayang. Seperti itu rasanya ketika kau dihantam oleh sebuah berita seperti itu. Kemudian aku merasakan lelehan air mataku sendiri, menuruni pipi, menetes ke bawah dan membasahi bantal. Kemudian tertelan ruang hampa. Hampa, tepat seperti itu. Saat aku pada akhirnya menangis, perasaan yang ada adalah kehampaan yang asing.

Sungguh aneh bagaimana kematian akan menghapus jati diri seseorang, hingga lambat laun kita hanya mengingat momen acak yang pernah dilalui bersama seseorang itu. Dan tanpa terasa, kemudian kau harus bersusah payah mengingat rupa wajahnya. Dan waktu, akan dengan tidak tahu malu merampas kenangan itu dari orang-orang yang ditinggalkan, menyisakan kekosongan seperti sebuah bekas luka yang mengganggu.

Aku masih tidak pernah berhenti bertanya mengapa.

*
Fase setelah rasa hampa dan sebelum menerima keadaan ialah menyalahkan diri.

Aku tidak habis pikir, bagaimana mungkin aku bisa melewatkan tanda-tandanya. Perubahan sikapnya, penutupan dirinya, pengasingannya, seharusnya aku menyadarinya. Ya Tuhan. Seharusnya aku bertanya dan membantunya. Seharusnya aku mengejarnya, menariknya dari lubang hitam dan menyelamatkannya. Namun semua itu das sollen, seharusnya, bukan das sein, senyatanya. Nyatanya, aku gagal. Aku terlalu egois sehingga melupakan keadaan Lena.

Terkadang aku mendapatkan mimpi buruk. Mimpi yang sama, berulang-ulang diputar selama tidurku, membentuk sebuah simfoni traumatis yang menghantui. Dalam mimpi itu kulihat diriku berhadapan dengan Lena beserta sorot matanya yang menunjukkan kerapuhan. Lalu tubuhnya retak, dimulai dari celah matanya dan menyebar ke seluruh tubuhnya, pecah menjadi partikel-partikel kecil seperti istana pasir yang diterjang ombak. Hingga akhirnya ia hilang tidak berbekas. Atau terkadang mimpi itu memperlihatkan Lena, menjatuhkan diri dari tepi jurang sementara aku berdiri di belakangnya, tidak melakukan apapun kecuali membiarkannya mati.

Aku menyiksa diriku sendiri dengan memikirkan berbagai skenario tentang ‘seandainya’.

*
Aku sedang duduk di bangku kayu taman sekolah, dengan konsentrasi penuh menyelesaikan PR-ku, ketika Lena datang dan menempati bangku di seberangku.
“Ah, kamu selalu belajar.” Katanya.
Aku membalas cengirannya. “Hanya mengerjakan PR,” kilahku, yang tidak suka dicap sebagai kutu-buku.
Setelah jeda keheningan beberapa saat, Lena membuka percakapan dengan topik yang entah terinspirasi dari mana.
“Kata Buddha, hidup itu penderitaan.”
“Iya?” tanyaku, heran dengan kalimatnya.
“Entahlah. Sedari tadi aku berfikir, buat apa kita hidup? Terkekang dengan masalah-masalah dan batasan-batasan.”
“Memangnya masalahmu seberat apa sampai berfikir sebegitunya?”
Dia menghela nafas dan tersenyum lelah. “Ada hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu.” Ia melirik gerbang sekolah. “Aku pulang dulu ya!” katanya, sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut. 

*
Hujan semakin deras dan langit semakin gelap. Aku belum juga sampai di tempat tujuanku, dan benakku teralihkan oleh berbagai kilas balik.
Aku belum bisa menemukan alasan dibalik perilaku dan kematiannya yang disengaja, namun sepertinya aku mulai bisa memahami perasaannya. Perasaan lelah akan kehidupan, sebuah konflik dalam dirinya yang dipicu kejadian-kejadian yang tidak ia ceritakan kepadaku.
Lena yang kukenal adalah orang yang menghargai kebebasan diatas segala-galanya. Mungkin ia menganggap kematian sebagai jalan keluar. Sebuah pelarian dan pelepasan. Kemenangan yang hakiki atas segala permasalahan. Sebuah akhir yang megah untuknya sendiri.
Ia pernah bercanda bahwa suatu saat ia akan menemukan cara dimana ia akan mengungguliku sebagai balasan karena aku selalu mengalahkannya di rangking sekolah. Dan mungkin, entahlah, kematiannya adalah sebuah cara itu. Keunggulan yang tidak akan kutandingi, bukti bahwa aku tidak bisa lagi mengalahkannya. Pencapaian yang telah terjadi dan tak terbantahkan.
Aku menghela nafas. Sungguh aneh, aku menemukan pencerahan atas pertanyaan yang menerorku selama ini, di tengah jalan di bawah hujan. Aku hanya berharap dia tidak membenciku, karena semestinya, kami adalah sahabat. Dan mungkin...

Ia benar.

Mungkin ia benar.

*

Aku meneruskan berjalan, di atas trotoar basah dan di bawah langit gelap. Bunga aster putih untuk makam Lena masih ada di tanganku.
Aku melangkahkan kaki ke jalan raya sembari menengadahkan tangan ke langit untuk memeriksa apakah hujan masih turun. Sebuah bisikan memanggil namaku. Aku menoleh, mencari sumber suara. Secepat suara itu muncul, secepat itu pula suara itu hilang. Aku mendengar suara lain. Lebih nyaring, tapi anehnya terasa jauh.
Sayup-sayup otakku dapat mendeteksi bunyi itu.
Sesaat sebelum semuanya gelap, aku mendengar bisikan halus itu lagi.
“Halo, teman. Kita bertemu lagi, ternyata.”
Dan aku melihat Lena tersenyum dari tempat dimana aku menuju.

*
written two years ago.
originally published on majalah sekolah SMAN 5 (Joer-V)

Monday, May 8

Lintas Iman dan Perdamaian


Hari Jumat lalu saya dan teman-teman berkesempatan mengobrol dengan mbak Wening dari Srikandi Lintas Iman, sebuah organisasi non-profit yang bertujuan membangun dialog konstruktif antar kelompok-kelompok agama. Mengapa membawa nama ‘Srikandi’ yang mencerminkan perempuan? Karena, kata Mbak Wening, selama ini tokoh-tokoh pemimpin dan pemuka agama kebanyakan terbatas pada laki-laki, padahal perempuan juga berhak untuk memiliki peran.  Hence, dalam kiprahnya selama dua tahun berdiri, Srili (Srikandi Lintas Iman) juga berfokus pada isu perempuan serta ibu dan anak. Hal ini bertujuan pula untuk menanamkan pemahaman nilai-nilai toleransi sejak usia dini.

Mengenai isu agama, saya kira sebagai masyarakat Indonesia kita tidak asing lagi dengan berbagai diskursus di sekitar kita yang kental dengan unsur-unsur agamis dalam hampir setiap sendi kehidupan. Beberapa waktu yang lalu, sedang panas-panasnya isu Pilkada DKI yang kental dengan agama pemimpin, dimana terjadi banyak penolakan akan Ahok hanya karena bukan berasal dari agama maupun etnis mayoritas. Sebelumnya, isu ‘penistaan agama’ seolah menjadi musuh kolektif sebagian pemeluk Islam di Indonesia. Dalam dialog Jumat lalu saya juga mendengar berbagai kisah dari teman-teman yang sering mendapat perlakuan intoleran karena latar belakang agama, bahkan sesimpel karena dibesarkan dalam keluarga yang multireligius.

Selama ini saya selalu mengidolakan visi dimana Indonesia bisa menjadi negara yang sekuler. Tidak perlu lah mencampuradukkan agama (yang mana menurut saya merupakan ranah pribadi pilihan tiap orang) dengan masalah politik dan tatanegara yang merupakan hal kolektif. Pendapat saya ini berdasar dari banyaknya konflik kericuhan akibat isu agama. Sesi sharing ini membuat saya berpikir ulang. Selain karena secara konstitusional posisi agama dalam Indonesia masih buram, juga karena menurut Mbak Wening, salah satu akar munculnya intoleransi dan kebencian disebabkan tidak adanya dialog konstruktif antar pemeluk agama, sehingga yang muncul adalah kesalahpahaman dan perdebatan yang sayangnya seringkali bersikeras akan kebenaran masing-masing agama. Padahal, yang seharusnya dicapai adalah dialog, bukan debat. Dengan terwujudnya dialog, akan muncul pemahaman mengenai perbedaan maupun persamaan antar agama, yang tentunya semuanya mengajarkan kebaikan. Hal ini kemudian menciptakan common ground bagi semua kepercayaan untuk koeksis dalam ranah milik bersama yang plural dan toleran. Saya sangat sadar bahwa selama 12 tahun lebih menempuh pendidikan formal, pemahaman saya akan agama terbatas akan agama saya sendiri. Tidak ada effort terorganisir untuk memahami ajaran agama lain.
Kembali ke Srili, dalam kegiatan-kegiatannya yang bertujuan membangun pemahaman mutual lintas iman, banyak hambatan dan juga tantangan, seperti adanya protes dari kelompok tertentu. Publik yang seringkali masih sangat sensitif mengenai isu agama juga terkadang mengancam acara yang diorganisir akan ‘diciduk’ dan sebagainya. Saya sangat kagum dengan apa yang dilakukan oleh Srili; sebuah bentuk aktivisme non-kekerasan.

Salah satu miskonsepsi besar dalam memaknai pluralitas adalah bawah menjadi plural berarti menerima semua kepercayaan dan menyamakan berbagai agama yang ada dalam nama ‘toleransi.’ Padahal, bukan seperti itu. Plural berarti mampu menghormati perbedaan yang ada dalam rangka hidup dengan aman dan tentram bersama satu sama lain. Saya kemudian teringat salah satu artikel Johan Galtung mengenai komunitas polikultural. Galtung berpendapat bahwa masyarakat dunia sudah bisa hidup dalam struktur sosial yang poliglot atau multilingual, multilokal, multivora, namun ada aspek budaya yang belum sepenuhnya dapat terintegrasi seperti agama—kita belum multireligius[1]. Awalnya, saya cukup puzzled. Batin saya, masa iya, menganut semua agama? Ternyata, yang dimaksud sama dengan penjelasan mengenai pluralitas di atas. “But what can be demanded is the effort to understand that other religion as believers in that religion do themselves.”[2]

Mbak Wening juga berbaik hati menceritakan pengalamannya sampai menekuni dunia aktivisme lintas iman. Beliau bercerita bahwa ia tidak selalu se-berpikiran terbuka seperti ini. Ada masa dimana beliau mungkin menjadi sosok yang akan kita cap sebagai ‘konservatif,’ dan ‘fundamentalis.’ Terdapat proses yang panjang dan melibatkan pertanyaan-pertanyaan mengenai keimanan dan kepercayaan pribadinya hingga sekarang ia menjadi seseorang yang dapat memaknai dan menghormati kepercayaan lain. Intinya, proses seseorang untuk dapat sepenuhnya menjadi toleran dan terbuka bukanlah hal yang mudah. Saya cukup tertampar dengan salah satu pernyataan yang terlontar selama sesi dialog: ‘Jangan-jangan, selama ini kita tidak toleran terhadap orang-orang yang intoleran?’ Kurang lebih, bisa jadi kita terjebak dalam sebuah lingkaran setan. Ingin mempromosikan toleransi, tapi kita tidak menempatkan diri dalam posisi orang-orang yang selama ini kita labeli sebagai ‘kolot’ dan konservatif. Dalam demokrasi, semua orang seharusnya memiliki ruang untuk beropini dan berkeyakinan. Termasuk mereka yang bersikeras dengan kepercayaannya untuk memilih pemimpin muslim. Termasuk isu LGBT+ di Indonesia, dimana kaum-kaum ‘agamis’ sering menolak eksistensi mereka dengan dalil agama. Menurut Mbak Wening, kita tidak bisa memaksa mereka untuk semerta-merta bersifat suportif terhadap LGBT+, karena kepercayaan mereka mengenai LGBT+ bukanlah tidak berdasar. Fokus dan tujuan pertamanya adalah untuk mencegah mereka melakukan tindak kekerasan terhadap komunitas LGBT+, dan ini pun bukan hal yang mudah.

Memaksa mereka untuk menerima pendapat kita yang open minded dalam sekejap saja tidak akan berhasil, ada latar belakang dan proses panjang dibalik pandangan seseorang—terlebih lagi, ini merupakan hak mereka juga. Hal ini sering luput dari pemahaman saya. Mbak Wening juga sempat menyinggung budaya ‘berdebat via sosial media’ yang nampaknya sedang menjadi tren. Di kolom komentar, ada saja dua kubu: satunya penganut agama yang memegang teguh apa yang mereka percayai bahkan sampai menebar hate-speech, dan di kubu lain orang-orang openminded yang juga tidak jarang merendahkan opini kubu satunya. Jujur,saya sering indulge dalam perdebatan semacam itu—meski seringnya hanya sebagai observator. Hal semacam ini tidak memberi manfaat apapun, karena sangat jarang tercipta kesepahaman antara kedua kubu yang berdebat, padahal yang dibutuhkan adalah dialog. Hal ini semakin memperkuat prejudice antara satu sama lain yang tentunya tidak memperbaiki keadaan di dunia nyata.

Hal ini cukup mengganjal di pemikiran saya: sampai batas apa kita bisa bersifat toleran terhadap orang-orang yang kepercayaannya mengancam eksistensi beberapa golongan, terutama minoritas? Sebut saja neo-nazi atau far-right ideology yang sedang bermunculan di negara Barat sana. Penolakan terang-terangan terhadap etnis maupun golongan tertentu tentunya mengancam eksistensi beberapa orang hingga level tertentu. Atau mungkin Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)—yang pada hari saya menulis ini dibubarkan—dengan visinya membangun negara khalifah a la masa khulafaur rasyidin. Sebuah pertanyaan yang akhirnya saya lontarkan pada Mbak Ayu dalam salah pertemuan di kelas. Jawaban beliau bagi saya sangat memuaskan: apakah eksistensi kelompok yang saya bicarakan benar-benar mengancam eksistensi kelompok lain? Atau itu hanya dalam level ideologis dan ancaman yang kita rasakan hanya paranoia dan prejudice semata? Saya diminta mengingat kembali ketakutan Indonesia terhadap komunisme yang bahkan terjadi hingga sekarang. Terjadinya momok ketakutan itu awalnya juga berasal dari tidak adanya ruang dialog, dan isu ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum-oknum untuk menjustifikasi berbagai kekerasan yang terjadi. Demikian, dibubarkannya HTI kemudian menjadi hal yang kurang tepat dilakukan karena kembali lagi pada nilai-nilai demokrasi, mereka berhak untuk mendapat ruang.

Inti dari ‘petuah’ Mbak Ayu, jika tujuan kita adalah untuk berkontribusi terhadap perdamaian, maka aktivisme apapun yang kita jalankan seharusnya hanya memerangi satu hal: kekerasan. We have to avoid violence at all costs. Apakah toleransi yang kita perjuangkan secara tidak sadar menyakiti orang lain dan mengabaikan perspektif mereka? Memang, saya dan juga kalian sering ‘tidak sabar’ dalam menghadapi opini-opini berbeda yang kita anggap salah. Saya masih harus banyak belajar menghormati. Kuncinya adalah selalu bersifat reflektif dan tidak pernah berhenti berpikir, kata Mbak Ayu. Saya setuju.

*
Terimakasih pada Mbak Wening dari Srikandi Lintas Iman, serta Mbak DK dan Mbak Ayu sebagai dosen pengampu kelas Pengantar Studi Perdamaian 2016. Salam Damai!






[1] J. Galtung, Rethinking Conflict: the Cultural Approach, Council of Europe, Strasburg, 2002, p.51.
[2] J. Galtung, ‘From Polyglot to Polycultural: A Next Step in Raising Children,’ Galtung Institut for Peace Theory and Peace Practice, <https://www.galtung-institut.de/en/2015/from-polyglot-to-polycultural-a-next-step-in-raising-children/>February 3rd 2015.

Monday, May 1

Rain: (Not) A Romanticization


 


You know how much I hate the rain, but it wasn’t always the case. You see, we are not born with a hate for something, with a love for something. I have always been captivated with the way strange, seemingly unrelated experiences are keychains that will forever intermingle in our lives. This is me, and the rain.

I remembered sitting shotgun through the streets of Strathpine neighborhood, the rain is heavy pelts against the windowglass. We were on our way to a bookstore, and once we arrived, we tumbled out of the car like pearls, laughing like maniacs. I don’t recall the name of the store, but I did remember the warmth of the shopkeeper lady’s smile, commenting on our state of drenched. Three surrogate sisters living shortlived life on a new continent, limited days of first-world privilege. I was so happy back then, hoping I could live this life that was never mine.

Dragging the reel of time way back, rain meant jumping puddles with my sister and mindlessly listening to my mother’s scolds with a hint of exasperated joy in her voice. Rain meant cuddled up in my blanket, a book in hand—safe and warm in my private world. Rain meant sitting together in front of the TV, not really caring what was on because we were all together, anyway.

Rain meant mundane but wholesomely special conversation on a borrowed balcony and on a borrowed time, with a first love I held dear. Touching our socks-covered feet together, as lightning and thunders splitted the sky. Rain meant an excuse not to never ever ever leave, wishing that we could stay like that forever and ever and ever. Rain was, as cliche as it sounds, also a metaphor of a clean slate, a new beginning as wafting petrichor signaled the start. Of days start anew.

It was then and this is now.

I can’t shake up this feeling of discomfort when those godforsaken droplets of water break out of the clouds. The dread of being trapped with the rain around me is a fuel for me to retreat. I don’t know what changed, maybe it is the unfamiliarity of my surroundings, my lack of safe space, or merely a change in my mind. Rain is an inconvenience—holding me back, holding me out. Rain is an archenemy to my immune system, always has been weak since day one, what a sickly little girl. Rain makes me agitated, helplessly seeking for a feeling that I cannot decipher, clawing thin air for an answer. Rain brings out what I hate in myself, irrational fear of being lonely without a cure, making me feel too much it's overwhelming and please please make it stop.

I despise the rain, because maybe as time goes by, I began to resent my so-called first love that turned to be an utter dipshit of a one-sided heartbreak. I loathe the rain, because maybe I had realized that the dreams I wanted for myself are not always in tune with the truth. Rain is no longer a metaphor, it is just another reality in this very, very, real life. And I don't think I've made peace with it all.


*

Monday, March 6

Man is Wolf to Another Man

Man is a wolf to another man. Homo homini lupus. Thomas Hobbes said that in part of his explanation about realism, a perspective that views states' behavior as self-centered, because that is human instinct. (sorry, this is so IR-ish.)

I really can't blame realists for attributing self interests to humanity. It's true; (most) people focus on themselves rather than their surroundings. Regards to others' wellbeing mostly come secondary.

Allow me to tell you what I encountered  in Nabawi Mosque, Medina. There resides Prophet Mohammad's final resting place, and the area around it is called the Raudha (not sure if I spelled it right), where prayers are most likely to be listened.

We have to wait hours to get in, because it is a small space and eeeeveryoneeee wants to get in. The Askaris are shouting here and there to calm people down, telling them to wait. Just like International Law to states, the Askaris aren't always listened. Who cares if I step on an elderly as long as I get to enter the holy site, right? Who cares about those tiny Indonesians when I have this bigger body to push them off? Who the heck cares about the Askari screaming at us to queue in order if I can just push past the crowd? Yay, I get to pray on The Prophet's cemetery!

Wow, on the second thought, that was quite rude and generalizing of me. I apologize. It was an unfair description, I was annoyed. In fact, not everyone behaved like that. Many are nice and considerate. And about the people who are not, I guess there are justifications: they might have waited years for a chance to be in this holy city, and all they want was to pray near the Holy Prophet's cemetery. I can relate, the strength of faith and hope is indeed powerful.

So. Realism is still not wrong, but it is not quite right to say that humans are inherently selfish without looking at their backgrounds. One does not simply generalize human behaviors. I still regard realism as the most convincing IR perspective so far, though.

One-Legged Guy on the Ka'abah

I went Umrah recently — it's a Moslem pilgrimage to Al-Haram Mosque in  Mecca.

In Umrah, we do Thawaf: walking around the Ka'abah (a cuboid holy structure) in seven laps. It's not a very long distance, what makes it hard is the crowd. Thousands of people do Thawaf at the same time, making it literally an ocean of people. Look up a video on youtube if you want to get the clear picture. When you do Thawaf, you will be pushed around, get your feet stepped on, get elbowed, and sometimes on the most crowded times it's even difficult to breathe due to lack of air.

Bottom line, it's a struggle.

And then I saw that guy, on the floor near the Ka'abah, two hands on each side of his body to pull him forward. He has only one leg, the other's a stump. Yet he was doing Thawaf by himself. No cane, no wheelchair, nothing and no one. He's just......crawling right there. It's a slow pace, and people just keep bustling around him, careful not to accidentally step on him. From a quick glance he didn't seem bothered, doing a seven laps through the outer line of the Ka'abah, which  mathematically is a longer distance.

The sight all of a sudden made me somehow emotional. I was ashamed of myself, how often I'm being a snob who  whines. No struggle in my life is as noble or as hard as that guy's. Linking it back to my previous post about privilege, I'm privileged to have functional limbs. I don't have to drag my body around, because I can walk. I don't have to do the things that guy has to do.

I'm ashamed to admit this, but I think sometimes I'm too critical and cynical to be grateful. I analyze too much ane I end up forgetting to be grateful at all times; grateful of simple facts like being alive, being healthy, being safe and sound. There are just so many things we all take for granted, and sometimes we need that reality check. Normally I don't believe in this kind of sentiment (curse my skepticity), but at that moment, I guess God is telling me something.

I'll have to remember that one-legged guy on the Kaa'bah.
Couldn't take a decent pic, but heres the Kaabah.


*

p.s.
It was Thawaf Wada', or the farewell thawaf of Umrah before we leave Mecca. How serendipitous. When I walked out of Masjid Al-Haram, it was the perfect morning. Cool breeze, bright sky, doves happily flying. Such a fitting scene for my farewell. I threw such a childlike tantrum of having to leave classes for this Umrah trip, but looking back at that one-legged guy, I wanted to slap myself across the face.


Written from Madina,
6th March.


Hurricane Heart

—hurricane heart


for those who do not give up and conform.
darling, you are a force to be reckoned with.

for every time you have been silenced,
for every question left unanswered,
adds fuel to your fire.
because, darling, you are blessed with such sleepless rage.

stink eye and scathing chides saying you will not fit in to this world we live in,
darling, you should be grateful then—
you are not to be fooled nor tamed by the mundane reality.
you are infinite; in your bones is the universe itself.

your voice is the calm before a storm,
a gentle timidity concealing millions of accusations.
burning in your veins are the spirit of the restless youth,
one that dreams, desires, wonders.
one that never, ever, ever settle.

thus, next time somebody tells you to sit tight and be quiet,
show them you're a hurricane.